21 April 2026
Pagi ini di Aula Srikandi RS Sentosa tidak hanya dipenuhi deretan kursi dan susunan acara yang rapi. Ada sesuatu yang terasa lebih hidup—sebuah pertemuan gagasan, pengalaman, dan harapan yang bertemu dalam satu ruang. Pengukuhan dan pelantikan pengurus GEMA menjadi panggung awal, tetapi justru pada sesi sambutan dan arahan, arah gerakan ini terasa menemukan nadinya.
Salah satu momen yang paling menyentuh datang melalui sambutan Komisaris PT GEMA Faskes Indonesia. Dalam suasana yang hangat namun penuh kesadaran, beliau tidak sekadar berbicara tentang organisasi atau struktur. Ia berbicara tentang manusia—tentang pasien, tentang tenaga kesehatan, dan tentang relasi yang sering kali terabaikan di antara keduanya.
Ia mengawali dengan pengingat sederhana namun dalam: bahwa kehadiran lembaga akreditasi bukanlah formalitas administratif, melainkan sebuah komitmen nyata untuk memastikan setiap layanan kesehatan benar-benar bermutu dan aman.
Namun yang paling membekas bukan itu.
Dalam arahannya, Komisaris menyisipkan refleksi dari perjalanan akademiknya. Disertasinya, yang berfokus pada patient centered care, menjadi pijakan moral yang ia bawa ke ruang organisasi. Ia menyampaikan dengan tenang, tetapi tegas—bahwa pelayanan kesehatan tidak boleh berhenti pada prosedur dan standar.
“Tenaga kesehatan dan tenaga medis harus mulai mendengarkan suara pasien,” demikian kira-kira pesan yang ia tekankan.
Kalimat itu sederhana. Tapi di baliknya, ada kritik halus terhadap praktik layanan yang sering terlalu sibuk dengan administrasi, terlalu fokus pada indikator, dan perlahan menjauh dari esensi: manusia yang dilayani.
Ia seperti ingin mengingatkan—bahwa mutu tidak lahir dari dokumen, tetapi dari empati yang hidup.
Ruang yang Mempertemukan Banyak Suara
Acara itu juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting yang selama ini berada di garis depan pelayanan kesehatan di Bogor Raya. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan penanda bahwa GEMA sedang membangun jejaring yang lebih luas.
Prof. Wahyu hadir membawa perspektif akademik yang menyejukkan. Sementara dr. Yudhi, Ketua ARSSI Bogor Raya, memberikan warna praktis dari pengalaman rumah sakit yang berhadapan langsung dengan realitas layanan setiap hari.
Di sisi lain, dr. Wahyu sebagai Ketua Asklin Bogor Raya menghadirkan suara dari klinik-klinik yang sering kali menjadi garda terdepan layanan primer. dr. Bayu dari BAMUTU, serta dr. Askar dari KAKL-KAKP, turut melengkapi mozaik ini—masing-masing membawa pengalaman, tantangan, dan harapan yang berbeda.
Yang menarik, pertemuan ini terasa seperti ruang tanpa sekat. Tidak ada jarak yang kaku antara regulator, praktisi, dan akademisi. Semua duduk dalam satu frekuensi: bagaimana mutu bisa benar-benar hidup, bukan sekadar di atas kertas.
Akreditasi yang Dihidupkan Kembali
Dalam arahannya, Komisaris juga menyinggung satu hal yang selama ini sering menjadi kegelisahan bersama—cara pandang terhadap akreditasi.
Ia mengajak seluruh pengelola fasilitas kesehatan untuk berhenti melihat akreditasi sebagai beban. Sebaliknya, ia menempatkannya sebagai kesempatan untuk berbenah, untuk belajar, dan untuk tumbuh.
Pesan ini terasa penting, terutama di tengah praktik yang sering menjadikan akreditasi sebagai “proyek musiman”—ramai saat penilaian, lalu redup setelahnya.
Di titik ini, GEMA seperti ingin mengambil posisi yang berbeda. Tidak hanya sebagai lembaga penilai, tetapi sebagai mitra pembinaan. Bukan sekadar mengaudit, tetapi juga menemani proses perubahan.
Menyatukan Sistem dan Rasa
Jika seluruh rangkaian acara itu dirangkum dalam satu benang merah, maka ia adalah upaya menyatukan dua hal yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri: sistem dan rasa.
Sistem hadir dalam bentuk standar, indikator, dan regulasi. Ia penting, bahkan mutlak. Tapi tanpa rasa—tanpa empati, tanpa kemampuan mendengar—ia mudah menjadi kaku.
Sebaliknya, rasa tanpa sistem bisa menjadi baik, tetapi tidak konsisten.
Di sinilah pesan patient centered care yang disampaikan Komisaris menemukan relevansinya. Ia bukan sekadar konsep akademik, tetapi jembatan antara sistem dan kemanusiaan.
Menjelang akhir acara, ketika sesi foto bersama dan kunjungan sekretariat dilakukan, suasana terasa lebih cair. Tidak lagi formal, tidak lagi kaku. Ada tawa, ada obrolan ringan, tetapi juga ada kesadaran yang diam-diam tumbuh.
Bahwa pekerjaan besar baru saja dimulai.
GEMA, dengan segala semangat dan jejaring yang mulai terbangun, kini dihadapkan pada tantangan yang tidak sederhana: menjaga agar semangat hari itu tidak padam, agar pesan tentang mendengarkan pasien tidak berhenti sebagai kutipan sambutan.
Dan mungkin, di situlah ukuran keberhasilan yang sebenarnya.
Bukan pada seberapa banyak sertifikat yang terbit, tetapi pada seberapa banyak pasien yang merasa didengar. (*)